KEMBARA: KETIKA TUBUH MEMINTA BERHENTI, JIWA MEMILIH UNTUK TETAP BERJALAN.

Kembara kali ini memberikan pelajaran yang luar biasa.

Dulu, ketika usia masih muda, aktivitas terasa begitu ringan. Naik gunung, berjalan jauh, tidur beralaskan matras seadanya, menghadapi dinginnya malam, makan dengan segala keterbatasan—semuanya terasa biasa.

Tetapi waktu terus berjalan.

Dan kita baru sadar bahwa yang berubah bukan semangat kita…

yang berubah adalah tubuh kita.

Usia tidak lagi muda.

Sebagian besar peserta Kembara kali ini bahkan sudah berada di atas kepala lima. Hampir semua telah memilki anak, bahkan cucu. Ada ketua DPRD, anggota dewan yang masih aktif, para pejabat, para pengusaha, dan orang-orang yang dalam kesehariannya mungkin lebih akrab dengan ruangan ber-AC, hotel berbintang dan tempat tidur yang nyaman.

Tetapi lihatlah mereka…

Mereka datang bukan karena dibayar.

Tidak ada honor.

Tidak ada fasilitas mewah.

Bahkan sebagian harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk ikut.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada kewajiban.

Kalau tidak datang pun tidak akan dicela.

Lalu untuk apa mereka datang?

Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah kegilaan.

“Orang-orang ini sudah tua, mengapa masih mau menyusahkan diri?”

Tetapi mungkin justru di situlah jawabannya.

Karena ada sesuatu yang lebih kuat daripada kenyamanan.

Ada panggilan iman.

KEMBARA YANG TERASA BERBEDA.

Sudah hampir sepuluh tahun rasanya tidak ada lagi muqāṭa’ah seperti ini.

Kata itu dahulu begitu melekat dalam kehidupan seorang aktivis dakwah di bawah naungan tarbiyah.

Karena itu ketika Kembara datang kembali, ada rasa rindu yang sulit dijelaskan.

Rindu kepada suasana dahulu.

Rindu kepada kebersamaan.

Rindu kepada perjuangan.

Rindu kepada saat-saat ketika kami harus meninggalkan kenyamanan dan turun ke lapangan dengan segala keterbatasan.

Dulu saya pernah melewati beratnya pendakian Gunung Gede dan Pangrango.

Bahkan beberapa kali kaki mengalami kram hebat, sampai rasanya menjalar ke perut.

Tetapi ketika itu usia masih muda.

Rasa sakit tidak otomatis mematikan semangat.

Justru ada keyakinan:

“Inilah saatnya membuktikan amal jama’i.”

Bahwa dakwah bukan hanya tentang berbicara.

Bukan hanya tentang rapat.

Bukan hanya tentang duduk di ruangan yang nyaman.

Tetapi ada waktunya kita harus turun ke lapangan, merasakan dingin, lelah, lapar, haus, tidur di atas matras seadanya, dan berjalan ketika tubuh sebenarnya ingin berhenti.

Dahulu semua itu terasa biasa.

Tetapi kali ini…

sungguh terasa sangat berbeda.

Karena sekarang usia sudah tidak muda lagi.

KETIKA TUBUH MULAI BERBICARA

Saya sendiri datang dengan tubuh yang sebenarnya mempunyai cukup banyak alasan untuk tidak ikut.

Jantung saya telah mengalami beberapa kali operasi besar.

Saya masih mengingat serangan jantung pertama pada tahun 2011.

Saat itu saya datang menjenguk ibu yang sedang dirawat di UGD karena pecah pembuluh darah.

Perjalanan menuju rumah sakit pun bukan perjalanan yang mudah.

Dengan segala keterbatasan, menggunakan motor satu-satunya yang saya miliki, bersama kakak yang saat itu menemani—yang hari ini telah lebih dahulu meninggalkan kami.

Bekal terbatas.

Jaket seadanya.

Bahkan bahan bakar sempat habis.

Motor harus dituntun hampir tiga kilometer di jalan Pantura yang panas, berdebu, sementara kendaraan dan truk besar terus berlalu-lalang.

Tetapi setelah sampai, hampir tidak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri.

Melihat ibu terbaring tidak sadarkan diri, malam itu saya hanya ingin berada di sisinya.

Saya membaca Al-Qur’an berulang-ulang.

Surah Al-Baqarah saya baca hingga selesai.

Saya memperbanyak dzikir.

Saya berdoa.

Bukan meminta sesuatu yang besar.

Saya hanya berharap…

“Ya Allah, berikanlah kesempatan kepada ibu untuk sadar walau sebentar saja.”

Saya ingin meminta maaf.

Atas kesalahan-kesalahan masa lalu.

Atas waktu yang mungkin terlalu banyak saya habiskan di luar rumah.

Atas jarak yang membuat kami semakin jarang bertemu.

Karena hidup merantau membuat perjumpaan dengan orang tua tidak lagi sesering dahulu.

Malam itu saya ingin sekali mendengar suaranya.

Ingin melihat matanya terbuka.

Ingin mengatakan:

“Bu… maafkan saya.”

Tetapi di tengah suasana itu, tubuh saya tiba-tiba menyerah.

Serangan jantung datang.

Saya tidak sadarkan diri.

Dan empat orang dokter menyatakan bahwa saya telah meninggal.

Namun Allah masih memberikan kesempatan.

Rupanya umur belum selesai.

MAKA SEBENARNYA SAYA PUNYA ALASAN UNTUK TIDAK BERANGKAT!

Dengan riwayat seperti itu, kalau saya meminta izin untuk tidak mengikuti Kembara, rasanya tidak akan ada seorang pun yang menyalahkan.

Apalagi kaki saya pun tidak lagi seperti dahulu.

Cedera akibat jatuh saat olahraga membuat kedua kaki sering terasa sakit.

Ada masalah saraf terjepit di kanan dan kiri.

Berjalan cepat saja sudah tidak mudah.

Ditambah usia yang sudah kepala lima dan enam cucu yang menunggu di rumah.

Secara logika…

saya mempunyai banyak sekali alasan untuk memilih tinggal.

Dan mungkin panitia pun akan sangat memahami.

Tetapi justru di situlah pergulatan batin itu terjadi.

Saya bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau dakwah hanya kita lakukan ketika tubuh nyaman, lalu apa makna pengorbanan?”

DAN KEMBARA PUN DIMULAI

Pegunungan Cudahu ternyata bukan sekadar perjalanan.

Medannya terjal.

Naik.

Turun.

Jauh.

Dingin.

Udara malam menusuk hingga ke tulang.

Suhu sekitar belasan derajat membuat tubuh semakin cepat kehilangan tenaga.

Dan bagi seseorang yang kedua kakinya sudah bermasalah, setiap langkah terasa lebih panjang daripada yang sebenarnya.

Yang paling sederhana pun menjadi perjuangan.

Sekadar mencari tempat untuk buang air kecil saja membutuhkan perjalanan yang cukup jauh.

Naik turun.

Berjalan pelan.

Menahan sakit.

Mengatur napas.

Sementara tubuh terus berbisik:

“Sudahlah… berhenti saja.”

Dan di suatu titik, jujur saya katakan…

saya hampir menyerah.

Ada keinginan untuk berkata:

“Sudahlah, saya izin. Saya pulang saja.”

Tidak ada yang akan menyalahkan.

Tidak ada yang akan mengatakan saya pengecut.

Saya punya alasan syar’i.

Saya punya riwayat sakit.

Saya punya cedera.

Saya sudah tidak muda.

Saya bahkan bisa mengatakan bahwa tubuh saya tidak memungkinkan.

Dan mungkin semua orang akan berkata:

“Tidak apa-apa. Antum pulang saja.”

Tetapi ternyata…

yang paling berat bukan medan Cidahu.

Yang paling berat adalah mengalahkan suara dalam diri sendiri yang meminta kita berhenti.

SEBAB INI BUKAN TENTANG KUATNYA KAKI

Kembara ternyata bukan ujian seberapa kuat kaki kita.

Bukan pula siapa yang paling cepat sampai.

Bukan tentang siapa yang paling tahan dingin.

Bukan tentang siapa yang paling gagah mendaki.

Kembara adalah tentang sebuah pertanyaan sederhana:

“Ketika tidak ada yang memaksa, apakah kita masih mau berkorban?”

Sebab kami datang secara sukarela.

Tidak dibayar.

Bahkan sebagian membayar sendiri untuk hadir.

Tidak ada kewajiban.

Tidak ada ancaman sanksi.

Tidak ada keuntungan duniawi yang besar.

Bahkan bagi orang-orang yang sudah biasa tidur di hotel berbintang, Kembara justru berarti meninggalkan tempat tidur yang nyaman untuk tidur di atas matras sederhana.

Meninggalkan ruangan yang hangat untuk merasakan dinginnya pegunungan.

Meninggalkan kenyamanan untuk berjalan dalam medan yang berat.

Dan yang paling menggetarkan…

sebagian besar dari kami sudah tidak muda lagi.

MUNGKIN DUNIA AKAN MENGATAKAN: “GILA!!!”

Ya…

Kalau ukurannya adalah kenyamanan dunia, mungkin kami memang terlihat tidak waras.

Orang yang sudah punya jabatan masih mau berjalan jauh.

Orang yang sudah punya usia dan keluarga masih mau tidur seadanya.

Orang yang bisa memilih hotel berbintang justru memilih dinginnya pegunungan.

Orang yang bisa menikmati akhir pekan dengan nyaman malah memilih medan yang membuat kaki sakit.

Dan orang yang mempunyai alasan untuk tidak datang…

justru memilih datang.

Tetapi mungkin…

itulah harga sebuah cinta.

Cinta kepada dakwah.

Cinta kepada jamaah.

Cinta kepada amal jama’i.

Dan yang paling utama…

cinta kepada Allah.

Karena kita tidak sedang mengejar tepuk tangan manusia.

Kita hanya ingin membuktikan kepada Allah:

“Ya Rabb, selama Engkau masih memberikan kemampuan, kami ingin tetap berada di jalan ini.”

KETIKA USIA BERTAMBAH, SEMESTINYA PENGORBANAN JANGAN BERKURANG

Dulu kami berjalan karena kaki masih kuat.

Sekarang kami berjalan meskipun kaki sudah sakit.

Dulu kami mendaki karena tubuh masih muda.

Sekarang kami mendaki dengan tubuh yang mulai renta.

Dulu kami tidur di matras karena belum mampu membeli kenyamanan.

Sekarang kami meninggalkan kenyamanan yang sebenarnya sudah mampu kami beli.

Dan di situlah maknanya menjadi berbeda.

Dulu kita berkorban karena belum memiliki.

Sekarang kita berkorban meskipun telah memiliki.

Dulu kita meninggalkan kenyamanan karena memang belum mengenalnya.

Sekarang kita meninggalkan kenyamanan karena kita tahu ada sesuatu yang lebih berharga darinya.

KEMBARA MENGAJARKAN SATU HAL

Suatu saat tubuh ini akan benar-benar berhenti.

Kaki tidak akan lagi mampu melangkah.

Mata tidak lagi mampu melihat.

Tangan tidak lagi mampu bekerja.

Dan usia akan sampai pada batas yang Allah tentukan.

Tetapi sebelum hari itu tiba…

semoga Allah tidak mendapati kita sedang meninggalkan perjuangan hanya karena tubuh mulai lemah.

Sebab mungkin bukan lagi waktunya membuktikan bahwa kita kuat.

Mungkin justru sudah waktunya membuktikan bahwa kita setia.

Setia ketika muda.

Setia ketika tua.

Setia ketika sehat.

Dan tetap berusaha setia ketika sakit.

Karena dakwah tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah.

Tetapi ia menjanjikan bahwa setiap langkah yang dilakukan karena Allah…

tidak akan pernah sia-sia.

Maka jika hari ini langkah kami mulai lambat…

biarlah.

Jika kaki mulai sakit…

biarlah.

Jika napas tidak lagi sepanjang dahulu…

biarlah.

Yang penting…

jangan sampai hati kita yang berhenti.

DAN MALAM ITU, DI PEGUNUNGAN CIDAHU…

Dalam dingin yang menusuk.

Dalam lelah yang membuat tubuh ingin rebah.

Dalam langkah yang terasa berat.

Saya kembali bertanya kepada diri sendiri:

“Untuk apa saya datang?”

Jawabannya ternyata sederhana.

Bukan karena saya kuat.

Bukan karena saya sehat.

Bukan karena saya muda.

Bukan karena ada bayaran.

Bukan karena ada jabatan.

Bukan karena ingin dipuji.

Saya datang…

karena saya tidak ingin ketika Allah bertanya nanti, saya menjawab:

“Ya Allah, sebenarnya saya masih ingin berjuang…
tetapi waktu itu tubuh saya sudah tidak muda.”

Tidak.

Saya ingin mengatakan:

“Ya Allah… saya memang sudah tua.
Kaki saya memang sudah sakit.
Jantung saya memang sudah tidak sekuat dahulu.
Tetapi ketika panggilan itu datang,
saya berusaha datang.”

Dan jika akhirnya langkah ini hanya mampu berjalan perlahan…

biarlah perlahan.

Jika harus berhenti berkali-kali untuk mengatur napas…

biarlah.

Jika kaki harus menahan sakit…

biarlah.

Sebab mungkin bagi manusia, langkah itu kecil.

Tetapi kita tidak pernah tahu…

mungkin satu langkah yang kita paksakan karena Allah itulah yang kelak menjadi saksi di hadapan-Nya.

KEMBARA bukan sekadar kemah.

Bukan sekadar naik gunung.

Bukan sekadar aktivitas fisik.

Bagi kami yang sudah tidak muda…

KEMBARA adalah pengingat.

Bahwa usia boleh bertambah.

Tubuh boleh melemah.

Kaki boleh sakit.

Jantung boleh tidak lagi sekuat dahulu.

Tetapi selama Allah masih memberikan umur dan kemampuan…

semoga semangat untuk berkhidmat tidak ikut menua.

Karena pada akhirnya…

yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita sampai.

Tetapi…

apakah ketika panggilan itu datang, kita masih memilih untuk berjalan.
(Dari saya Al Fakir Abu Asad).

Bagikan:

Advertorial