PKS, Partai Kader Paling “Gila”

Siapa sih yang nggak kenal PKS?

Kalau sampai nggak kenal, jangan-jangan selama ini tinggal di dalam gua. Itu pun guanya harus dipastikan ada sinyal internetnya.

PKS—Partai Keadilan Sejahtera—sudah cukup lama malang-melintang dalam jagat politik Indonesia. Partai yang dulu banyak diisi anak-anak muda, aktivis kampus, anak masjid, dan orang-orang yang kalau ngobrol politik bisa sampai lupa waktu.

Tapi zaman berubah.

Anak-anak muda itu sekarang sudah pada tua.

Yang dulu rambutnya hitam, sekarang sebagian mulai ubanan. Yang dulu kuat begadang sampai subuh, sekarang jam sembilan malam sudah mulai mencari bantal.

Tapi anehnya…

Semangatnya malah nggak ikut tua.

Belakangan ini saya melihat berseliweran di media sosial aktivitas kader PKS dalam kegiatan Kembara atau Kemah Bela Negara.

Namanya saja sudah “bela negara”.

Kebayang kan?

Ini bukan acara camping sambil bakar jagung, nyanyi-nyanyi, lalu foto-foto buat Instagram.

Ini ada naik gunungnya.

Ada jalan kaki.

Ada latihan fisiknya.

Ada baris-berbaris ala militer.

Ada pembekalan bela negara.

Ada kajian keislaman.

Pokoknya lengkap.

Yang bikin saya senyum adalah pesertanya.

Banyak yang usianya sudah 40 tahun ke atas.

Usia yang menurut sebagian orang sudah cocoknya olahraga ringan.

Jalan pagi.

Senam.

Atau paling berat… angkat galon dari depan rumah ke dapur.

Lah ini malah naik gunung!

Saya jadi bertanya-tanya:

“Ini kader partai apa calon pendaki Everest?”

Hehehe…

Tentu saja tidak semua peserta dipaksa mengikuti aktivitas yang berat. Faktor kesehatan tetap menjadi pertimbangan. Kalau dokter sudah bilang jangan, ya jangan.

Karena bela negara juga jangan sampai caranya malah bikin negara harus membela kita di rumah sakit.

Tapi di luar itu, ternyata banyak yang tetap semangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Keringetan?

Pasti.

Capek?

Jelas.

Betis pegal?

Jangan ditanya.

Tapi lihat wajahnya.

Tetap senyum.

Tetap semangat.

Tetap ketawa.

Di sinilah saya mulai berpikir:

“Ini orang-orang kok agak gila, ya?”

Tapi gila yang positif.

Gila dalam arti punya semangat yang tidak biasa.

Orang lain yang seusia mungkin sibuk mencari tempat duduk paling nyaman, mereka malah mencari tanjakan.

Orang lain mencari AC, mereka mencari jalur pendakian.

Orang lain kalau sudah lihat tanjakan langsung bilang, “Lewat mana yang datar?”

Mereka malah bilang:

“Tanjakannya sebelah mana?”

Nah, ini baru gila!

Tapi jangan salah.

Menurut saya, justru ada pelajaran penting dari “kegilaan” seperti ini.

Sebab kader partai itu bukan cuma soal datang ketika pemilu sudah dekat.

Bukan cuma pasang spanduk.

Bukan cuma bikin baliho.

Bukan cuma turun ke masyarakat ketika kamera sedang menyala.

Kader itu harus dibentuk.

Harus ditempa.

Harus punya daya tahan.

Dan yang paling penting, harus punya rasa kebersamaan.

Sebab orang yang pernah sama-sama kehujanan, sama-sama kepanasan, sama-sama ngos-ngosan di tanjakan, biasanya akan punya cerita yang lebih panjang daripada orang yang cuma sama-sama duduk di ruang ber-AC.

Mungkin itu salah satu alasan mengapa militansi kader PKS relatif terjaga.

Mereka punya banyak ruang untuk berkumpul, belajar, berolahraga, berdakwah, bersosial, dan bekerja bersama.

Dan yang menarik, kegiatan seperti ini tidak selalu gratis.

Peserta bahkan rela merogoh kocek sendiri.

Nah, ini yang menurut saya lebih “gila” lagi.

Sudah tua.

Sudah capek kerja.

Sudah punya keluarga.

Masih mau bayar sendiri…

…buat naik gunung!

Kalau saya?

Saya mungkin akan bertanya dulu:

“Ada paket yang tanjakannya bisa diganti eskalator nggak?”

Hehehe…

Tapi di balik candaan itu ada sesuatu yang patut kita apresiasi.

Sebuah organisasi atau partai politik tidak akan kuat hanya karena punya struktur.

Ia akan kuat kalau punya manusia-manusia yang mau bergerak.

Dan manusia yang mau bergerak biasanya lahir dari kebiasaan untuk bergerak.

Itulah sebabnya kita sering melihat kader PKS turun membantu masyarakat, termasuk ketika terjadi bencana atau persoalan sosial.

Belum tentu ada pemilu.

Belum tentu ada kampanye.

Belum tentu ada kamera.

Tapi mereka tetap datang.

Karena kalau turun ke masyarakat hanya menjelang pemilu, itu namanya bukan pengabdian.

Itu namanya deadline kampanye.

Hehehe…

Buat saya, di situlah menariknya cerita tentang PKS.

Saya tidak sedang mengatakan PKS adalah partai yang sempurna. Tidak ada partai yang sempurna. Semua punya kelebihan dan kekurangan.

Tetapi satu hal yang menarik untuk dilihat adalah bagaimana mereka menjaga tradisi kaderisasinya.

Karena politik tanpa kader hanya akan menjadi kendaraan.

Tetapi politik dengan kader yang militan bisa menjadi gerakan.

Dan mungkin karena itulah, setelah perjalanan politik Indonesia yang penuh belokan, tikungan, tanjakan, bahkan kadang jalan berlubang, PKS masih bisa bertahan.

Mirip pendakian tadi.

Kadang jalannya landai.

Kadang menanjak.

Kadang kita berhenti sebentar untuk minum.

Kadang ada yang bilang,

“Masih jauh nggak?”

Tapi akhirnya jalan lagi.

Begitulah mungkin perjalanan sebuah perjuangan.

Yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai.

Tetapi siapa yang tetap berjalan ketika yang lain sudah memilih berhenti.

Jadi kalau ada yang bertanya:

“Kenapa kader PKS mau ikut kegiatan seberat itu?”

Saya punya jawaban sederhana:

Karena mungkin mereka memang “gila”.

Gila olahraga.

Gila belajar.

Gila berorganisasi.

Gila membantu masyarakat.

Gila menjaga kebersamaan.

Dan mudah-mudahan…

gila melakukan kebaikan.

Kalau kegilaan seperti itu bisa menular kepada banyak orang, saya kira Indonesia justru akan semakin sehat.

Jadi…

Siapa yang mau ikut “gila” bersama PKS?

Tenang.

Nggak harus langsung naik gunung.

Mulai saja dari hal sederhana:

gila berbuat baik.

Kalau sudah terbiasa…

Baru kita bicara soal tanjakan.

Kamu berani?

Salam paling gila by @mjalbatawie

Sumber : Facebook M Jundi Al Batawie

Bagikan:

Advertorial