Meluruskan Kembali Makna Orang Shalih

Bismillah
Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh
Asatid dan ikhwah sekalian, ijin sharing tulisan semoga bermanfaat

Refleksi materi UPA Meluruskan Kembali Makna Orang Shalih

Edisi : Sabtu 24 Januari 2026

Pagi ini saya membina UPA Umar. Meski pertemuan dilakukan secara daring—karena sebagian anggota UPA terdampak banjir dan akses jalan terputus—UPA tetap berjalan dengan penuh hikmah. Justru dalam kondisi seperti itu, saya merasakan satu nikmat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, kerinduan untuk bertemu dengan orang-orang shalih. Ngangeni. Ada rindu yang menenangkan, ada rindu yang menguatkan.

Rindu itu bukan sekadar rindu pertemuan fisik. Ia adalah rindu terhadap suasana iman, rindu terhadap obrolan yang mengingatkan akhirat, rindu terhadap kebersamaan yang membawa hati mendekat kepada Allah. Dan pagi itu, Allah SWT menghadirkan rindu tersebut melalui satu materi yang sangat menggetarkan: meluruskan kembali definisi orang shalih.

Materi ini kami bahas dari tulisan guru kami, Ustadz Aunur Rafiq Saleh, yang merujuk pada QS Ali Imran ayat 114. Ayat yang mungkin sering kita dengar, tapi belum tentu benar-benar kita hayati maknanya.

Kesalihan yang Aktif, Bukan Pasif

Selama ini, tanpa sadar, sebagian dari kita memahami orang shalih sebagai sosok yang “diam”, “tenang”, “sibuk dengan dirinya sendiri”. Rajin ibadah, menjaga diri, menjauhi maksiat. Semua itu benar. Namun ternyata, definisi kesalihan dalam Al-Qur’an tidak berhenti di sana.

Dalam QS Ali Imran ayat 114, Allah menggambarkan orang-orang beriman yang shalih sebagai mereka yang mengajak kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.

Artinya, kesalihan dalam Islam bukanlah kondisi pasif, tetapi aktif. Orang shalih tidak hanya baik untuk dirinya, tetapi juga peduli terhadap sekitarnya. Ia tidak hanya menjaga iman pribadi, tetapi juga berusaha menghadirkan kebaikan di lingkungan tempat ia berada.

MasyaAllah. Ini definisi yang sangat dalam dan sekaligus menantang.

Keberhasilan yang Diukur dari Aktivitas, Bukan Hasil

Bagian yang paling menggugah saya adalah ketika memahami tolok ukur keberhasilan kesalihan dalam ayat ini. Dalam logika keseharian kita, keberhasilan hampir selalu diukur dari hasil. Jika kita menyuruh anak mengambil buku dan anak itu mengambilkannya, maka kita anggap perintah kita berhasil. Jika kita menasihati rekan kerja agar tidak ghibah, lalu mereka berhenti ghibah, barulah kita merasa nasihat kita sukses.

Namun ternyata, dalam konteks kesalihan menurut Al-Qur’an, Allah tidak menilai dari hasil, tetapi dari aktivitas ketaatan kita. Kesalihan tidak diukur dari apakah orang yang kita ajak akhirnya menjadi shalih.

Kesalihan tidak diukur dari apakah orang yang kita cegah akhirnya meninggalkan kemunkaran. Tolok ukurnya cukup satu apakah kita sudah menjalankan peran mengajak dan mencegah itu atau belum.

MasyaAllah. Betapa luasnya rahmat Allah SWT.
Allah tidak membebani kita dengan hasil yang di luar kendali kita. Allah hanya meminta kita untuk taat dalam peran yang Dia amanahkan. Hasil adalah urusan Allah.

Tarbiyah, Sekolah Kesalihan yang Hidup

Di titik ini, saya semakin menyadari betapa luar biasanya sistem tarbiyah yang kita ikuti. Tarbiyah yang dikelola dalam sebuah jamaah dakwah ini, dalam setiap dimensinya—saya ulangi, setiap dimensinya—penuh dengan indikator kesalihan yang Allah maksudkan dalam ayat tersebut. Dalam tarbiyah, kita diajak untuk, saling menasihati, saling mengingatkan, saling menguatkan dalam kebaikan,dan bersama-sama mencegah diri dari kemunkaran.

Artinya, tarbiyah menjadikan kita shalih secara aktif, bukan hanya secara personal. Setiap pekan, setiap pertemuan, bahkan setiap interaksi, kita diarahkan untuk terus hidup dalam orbit kesalihan itu.

MasyaAllah. Nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan?
Allah mempertemukan kita dengan sebuah sistem kehidupan yang jika kita istiqamah mengikutinya, maka kita akan terus berada dalam kategori orang-orang shalih—bukan karena kita merasa suci, tetapi karena kita terus bergerak dalam aktivitas dakwah.
Sebuah kemuliaan besar dari Allah SWT. Sebuah karunia yang tidak semua orang dapatkan.

Memperbesar Kapasitas untuk Memperbesar Dakwah

Di akhir pembinaan, saya menyampaikan motivasi kepada anggota UPA Umar. Sebuah pesan sederhana, tapi saya sampaikan dengan penuh harap, Bagi antum yang hari ini menjadi mahasiswa, raihlah potensi antum. Jangan puas menjadi mahasiswa biasa jika antum mampu menjadi ketua biro, ketua UKM, atau pemimpin organisasi kampus. Karena posisi yang berbeda akan membuka kesempatan dakwah yang berbeda.

Menjadi ketua RT tentu mulia.
Namun menjadi ketua RW memiliki jangkauan yang lebih luas.
Menjadi gubernur tentu memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar.

Bukan soal jabatan itu sendiri, tetapi tentang kapasitas dakwah yang menyertainya.
Semakin besar amanah, semakin besar pula peluang untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Selama orientasi kita lurus, kekuatan—baik berupa jabatan, waktu, sumber daya, dana, maupun fisik—adalah wasilah untuk memperbesar kesalihan kita di hadapan Allah.

IronMan_PKS-Kalideres

Bagikan:

Advertorial